FOMO vs JOMO – Menavigasi Kecemasan Sosial di Era Digital
Bagi Generasi Z, media sosial adalah jendela yang terbuka lebar selama 24 jam sehari,https://jurnalbaswara.com/dampak-media-sosial-bagi-kesehatan-dan-mental-gen-z/ memperlihatkan apa yang sedang dilakukan oleh semua orang di seluruh penjuru dunia. Namun, jendela ini sering kali menjadi sumber kecemasan emosional yang hebat. Muncul sebuah fenomena yang sangat melekat pada generasi ini, yaitu FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan tertinggal. Di sisi lain, muncul sebuah gerakan tandingan yang mulai populer sebagai solusi kesehatan mental, yaitu JOMO (Joy of Missing Out).
Tekanan untuk Selalu “Hadir”
FOMO dipicu oleh aliran konten yang terus-menerus di Instagram Stories atau TikTok. Saat melihat teman-teman berkumpul di suatu acara, menghadiri konser, atau merayakan pencapaian tertentu sementara dirinya hanya berada di rumah, seorang anggota Gen Z sering kali merasa hidupnya kurang menarik atau tertinggal. Kecemasan ini bukan sekadar rasa iri, melainkan ketakutan mendalam bahwa mereka tidak lagi relevan dalam lingkaran sosialnya jika tidak ikut serta dalam setiap tren atau aktivitas.
Dampaknya adalah kelelahan sosial. Banyak anak muda memaksakan diri untuk hadir di berbagai acara atau terus memantau ponsel mereka hingga larut malam hanya untuk memastikan mereka tidak ketinggalan informasi terbaru. Perilaku ini menyebabkan gangguan tidur, penurunan produktivitas, dan perasaan tidak puas yang kronis terhadap kehidupan nyata mereka sendiri.
JOMO: Seni Menikmati Kesendirian
Sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan tersebut, konsep JOMO mulai diadopsi oleh banyak individu Gen Z yang menyadari pentingnya kesehatan mental. JOMO adalah perasaan puas dan bahagia saat memilih untuk tidak terlibat dalam hiruk-pikuk media sosial atau acara sosial tertentu demi menjaga kedamaian diri. Ini adalah pengakuan bahwa kita tidak perlu mengetahui segalanya atau hadir di mana-mana untuk merasa berharga.
Mempraktikkan JOMO berarti secara sadar mematikan notifikasi, melakukan digital detox, dan menikmati momen saat ini tanpa perlu membagikannya ke dunia maya. Bagi Gen Z, ini adalah langkah revolusioner. Mereka mulai belajar bahwa kebahagiaan sejati sering kali ditemukan dalam ketenangan, hobi luring (offline), dan interaksi mendalam dengan sedikit orang, daripada interaksi dangkal dengan ribuan orang di layar.
Mencari Titik Keseimbangan
Menavigasi antara FOMO dan JOMO adalah bagian dari kedewasaan digital. Gen Z mulai menyadari bahwa media sosial hanyalah potongan kecil dari realitas yang dikurasi. Tidak mungkin bagi siapa pun untuk mengikuti semua tren tanpa mengorbankan kesejahteraan mentalnya.
Keseimbangan ditemukan ketika seseorang dapat menggunakan media sosial sebagai alat koneksi tanpa membiarkan metrik digital mendikte harga diri mereka. Dengan memprioritaskan kualitas interaksi daripada kuantitas, Gen Z sedang membangun benteng perlindungan terhadap kecemasan sosial, mengubah cara mereka berinteraksi dengan teknologi menjadi lebih bermakna dan tidak melelahkan.